Minggu, 11 September 2011

TELEPON


i got this story from my book, “Teen ink, Love and Relationships. Kisah-kisah remaja tentang cinta, kasih sayang, dan persahabatan” and i bought it maybe 2 years ago. This book same likes chicken soup. dan dari sekian banyak cerita, aku paling suka cerita “telepon” dari Shannon P. Miller. I love that story ! really love it! Then, ceritanya begini :
Saat dia menjulurkan badan di atas meja kecil itu untuk menjawab telepon, sempat diliriknya jam dinding. Jam merah terang itu balas menatapnya dan menunjukkan waktu 02.07 dini hari. Siapa sih yang meneleponnya pada dua pagi begini. Dijawabnya telepon itu dengan sapaan “halo” bernada sangat letih. Sapaannya dibalas dengan “halo” juga oleh suara di ujung sana, yang sudah sangat dikenalnya. Seketika kehangatan yang nyaman mengaliri seluruh pori-pori tubuhnya, seperti biasanya setiap kali dia mendengar suara itu, Dia masih setengah tidur dan tak bisa membaca nada suara cowok itu. Apakah cowok itu baik-baik saja? Apakah cowok itu memerlukan bantuan? Si cowok bisa merasakan ketakutannya dan meyakinkan gadis itu bahwa dia baik-baik saja. Dia pulang larut malam sehabis pertandingan dan mencoba tidur, tapi tak bisa. Dia banyak memikirkan si gadis dan ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
Menyampaikan apa? Pikir si gadis seraya mendengarkan suara nafas si cowok dengan seksama. Kedengarannya berat dan dipaksakan. Dia menunggu. Hening, meski keheningan ini beda. Ini keheningan yang nyaman dan tenang. Juga rasanya penting. Ini jelas bukan keheningan yang tidak enak seperti yang pernah dirasakannya sewaktu bercakap-cakap dengan cowok-cowok lain. Bersama cowok ini dia tidak merasa perlu keheningan yang sekali-sekali timbul dengan lelucon konyol atau tawa terkikik gugup yang kadang terkadang terjadi begitu saja. Dia tahu cowok ini ingin mengatakan sesuatu, tapi rupanya gugup sekali. Dia akan menunggu sampai cowok ini siap. Dia sudah puas bisa mendengarkan bunyi nafasnya selama yang diperlukan. Padahal, jangan-jangan cowok ini mengatakan bahwa dia tak ingin bertemu lagi, tapi karena suatu sebab dia merasa pada saat itu bahwa apa yang akan disampaikan si cowok adalah berita baik.
Dia tidak ingin mendesak si cowok supaya mengucapkan hal yang tak ingin diucapkannya, jadi dengan nada menenangkan dia mengatakan bahwa si cowok boleh menyampaikan apa saja padanya dan tidak perlu cemas. Si cowok mengucapkannya terima kasih karena dia begitu sabar. Akhirnya si cowok berkata terbata-bata, “Aku… rasa… emm… aku rasa … eh … kurasa aku lagi jatuh cinta ….”
Tiba-tiba saja kedamaian yang dirasakannya sembari mendengarkan bunyi nafas si cowok jadi terputus, “… padamu”. Apa yang diucapkan si cowok sesudah itu tidak lagi didengarkannya karena dia tak percaya cowok ini berkata begitu. Dia tahu hubungan mereka semakin dekat saja selama beberapa bulan belakangan ini. Dia sudah berpikir-pikir, mungkin dia mencintai cowok ini, tapi bagaimana dia tahu pasti? Apakah yang dirasakannya saat ini adalah cinta, ataukah dia hanya merasa harus mengekspresikan cinta untuk memvalidasi perasaan cowok itu? Apakah dia sudah siap untuk mengakui cintanya? Benarkah ini cinta? Dia merasa seolah-olah pikiran-pikirannya diputar dalam gerakan lambat. Perlahan-lahan bisa dirasakannya cowok itu menggelincir menjauh sementara suaranya makin lama makin jauh pula. Seperti inikah efek yang ditimbulkan cinta? Cintakah yang saat ini membuat mereka menjadi jauh satu sama lain?
Dia tak lagi bisa mendengar suara cowok itu. Yang bisa didengarnya hanyalah dering tanpa henti dari wekernya dan suara teleponnya yang menyiratkan bahwa gagangnya tidak ditaruh pada tempatnya. Bisa dirasakannya dirinya menggeliat dari alam tidurnya, perlahan-lahan dan dengan enggan, sambil mencoba mempertahankan kenyamanan yang dibawa oleh tidur. Dia merasa seperti sedang mencoba menemukan kehangatan dalam suara cowok itu, dan pengakuan cinta yang tadi diucapkannya. Dia takut yang terburuk terjadi, dan berharap yang terbaiklah yang didapatkannya. Ketika terbangun, bisa dirasakannya telepon itu berada di bawah lengannya. Perutnya terasa kram dan tenggorokannya mampat. Cowok itu telah mangatakan jatuh cinta padanya. Mana mungkin itu hanya mimpi, kalau emosi-emosinya terasa begitu nyata. Sekarang yang bisa dirasakannya hanyalah keheningan yang tidak enak di dalam ruangannya sementara dia memulai satu hari yang penuh kerinduan; kerinduan untuk mengetahui perasaan cowok itu yang sebenarnya, ke mana dua hati ini akan membawa mereka, dan kata-kata yang pada akhirnya akan diucapkan dan berakar dari perasaan-perasaan di dalam hati mereka.
Oh great! Endingnya gantung. I hope you love this story too :)

SUMBER: ggallegro.tumblr.com

Tidak ada komentar: